Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan global, kenaikan biaya energi, dan peraturan lingkungan yang ketat mendorong kenaikan biaya produksi EPS, dengan pasar diperkirakan akan mempertahankan tren kenaikan yang fluktuatif pada tahun 2026.

28 Januari 2026 – Pasar global untuk bahan baku Polistirena yang Dapat Dikembangkan (EPS) telah menyaksikan tren kenaikan harga yang berkelanjutan sejak paruh kedua tahun 2025, yang memberikan tekanan biaya yang signifikan pada industri hilir seperti konstruksi, logistik rantai dingin, dan pengemasan. Data industri menunjukkan bahwa harga rata-rata EPS Beads telah meningkat sebesar 3,2% dari tahun ke tahun pada tahun 2025, dan momentum kenaikan diperkirakan akan berlanjut pada paruh pertama tahun 2026, didorong oleh berbagai faktor termasuk fluktuasi harga monomer hulu, penyesuaian struktural sisi penawaran, dan permintaan hilir yang kuat.
Faktor-faktor Utama yang Mendorong Kenaikan Harga
1. Volatilitas Monomer Stirena Menjadi Faktor Utama
Monomer stirena (SM), yang menyumbang lebih dari 85% biaya produksi EPS, adalah faktor utama yang memengaruhi harga EPS. Menurut data dari Asosiasi Minyak dan Petrokimia Internasional (IPPCA), harga rata-rata global monomer stirena telah melonjak sebesar 5,8% dari bulan ke bulan pada Januari 2026, mencapai $1.280 per ton. Tren kenaikan ini terutama didorong oleh pasokan minyak mentah dan nafta yang ketat, yaitu bahan baku hulu stirena. Pemangkasan produksi yang berkelanjutan oleh OPEC+ telah menjaga harga minyak mentah tetap stabil di atas $85 per barel, sementara gangguan pasokan regional di Timur Tengah dan Eropa semakin membatasi produksi nafta, sehingga mendorong kenaikan biaya produksi monomer stirena.

2. Pembatasan Sisi Penawaran Meningkat di Tengah Kebijakan Lingkungan Hidup
Regulasi lingkungan yang ketat di seluruh dunia telah menyebabkan penutupan atau pengurangan kapasitas fasilitas produksi bahan baku EPS yang kurang efisien, sehingga memperburuk ketatnya pasokan. Di Tiongkok, produsen dan konsumen EPS terbesar di dunia, pemerintah daerah telah memperketat pengendalian emisi pada perusahaan petrokimia, dengan lebih dari 15% lini produksi stirena skala kecil dan menengah dihentikan sejak kuartal keempat tahun 2025. Di Uni Eropa, Mekanisme Penyesuaian Batas Karbon (CBAM) telah meningkatkan biaya produksi perusahaan kimia dengan emisi tinggi, mendorong beberapa produsen untuk mengurangi produksi atau memindahkan produksi ke wilayah dengan biaya karbon yang lebih rendah, sehingga semakin memperketat pasokan bahan baku EPS global.
3. Permintaan Hilir yang Kuat Mendorong Momentum Harga
Permintaan yang kuat dari industri hilir telah memberikan dukungan yang besar bagi kenaikan harga bahan baku EPS yang berkelanjutan. Industri konstruksi, konsumen EPS terbesar (mencakup sekitar 60% dari total permintaan), telah menunjukkan tren pemulihan di pasar-pasar utama. Di Asia Tenggara, proyek-proyek konstruksi infrastruktur di Vietnam, Indonesia, dan Thailand telah meningkat, mendorong permintaan akan bahan isolasi EPS. Industri logistik rantai dingin juga mengalami pertumbuhan yang stabil di tengah pemulihan perdagangan lintas batas global, dengan bahan kemasan EPS yang sangat dibutuhkan untuk transportasi makanan segar dan farmasi. Selain itu, sektor pengemasan untuk produk elektronik dan barang konsumsi telah mempertahankan permintaan yang stabil, semakin memperkuat tren kenaikan harga bahan baku EPS.
Prakiraan Tren Pasar untuk Tahun 2026
Menjelang tahun 2026, pasar bahan baku EPS global diperkirakan akan mempertahankan tren kenaikan yang fluktuatif, dengan fluktuasi harga terutama dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pertama, harga minyak mentah kemungkinan akan tetap berada di kisaran $80-$90 per barel karena kebijakan produksi OPEC+ dan risiko geopolitik di Timur Tengah, yang akan terus mendukung tingginya harga monomer stirena. Kedua, kendala sisi pasokan akan tetap ada: kebijakan lingkungan di negara-negara produsen utama tidak akan dilonggarkan dalam jangka pendek, dan perluasan kapasitas produksi baru akan dibatasi oleh biaya investasi yang tinggi dan siklus konstruksi yang panjang, sehingga sulit untuk secara signifikan meningkatkan ketatnya pasokan.
Namun, ada juga potensi risiko penurunan. Jika ekonomi global melambat lebih dari yang diperkirakan, permintaan hilir di industri konstruksi dan pengemasan dapat melemah, sehingga menekan harga bahan baku EPS. Selain itu, pelepasan bertahap kapasitas produksi stirena baru di Timur Tengah dan Amerika Utara pada paruh kedua tahun 2026 dapat mengurangi ketegangan pasokan sampai batas tertentu.
Para analis industri menyarankan agar perusahaan hilir secara aktif menyesuaikan strategi pengadaan, mengamankan kontrak pasokan jangka panjang dengan pemasok utama untuk menghindari dampak fluktuasi harga jangka pendek, dan mempercepat penelitian dan pengembangan bahan alternatif yang ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku EPS.
Tentang Bahan Baku EPS
Bahan baku Polistirena yang Dapat Dikembangkan (EPS) banyak digunakan dalam isolasi konstruksi, kemasan rantai dingin, penyangga produk elektronik, dan bidang lainnya karena sifatnya yang ringan, isolasi termal, dan peredam guncangan. Ukuran pasar EPS global diperkirakan akan mencapai $38 miliar pada tahun 2028, dengan Asia-Pasifik tetap menjadi wilayah konsumsi terbesar, didorong oleh urbanisasi dan pembangunan infrastruktur yang pesat.
